Tuesday, February 20, 2007

Kisah Hikmah


BATAL HAJI KARENA DERITA PEREMPUAN MISKIN



Suatu ketika, Rabi’ bin Sulaiman berkeinginan menunaikan ibadah haji. Rencananya, ia akan menunaikan ibadah haji bersama salah seorang saudaranya dan bersama-sama dengan rombongan lainnya.

Ketika sampai di Kufah, Rabi’ bin Sulaiman berkeliling di pasar untuk membeli keperluan selama dalam perjalanan tersebut. Di suatu tempat yang sepi, tak sengaja Rabi’ bin Sulaiman melihat seorang perempuan. Perempuan itu berwajah lusuh dan berpakaian compang-camping. Dengan sebilah pisau ditangannya, perempuan itu tampak begitu antusias memotong-motong bangkai seekor Bighal. Lalu, potongan daging bangkai Bighal itu ia masukkan ke dalam bakul.

Rabi’ bin Sulaiman tercenung. Di pikirannya berkelabat dugaan bahwa perempuan yang dilihatnya adalah istri seorang tukang masak roti. “Barangkali ia akan memasak bangkai tersebut dan memberikannya kepada orang lain.” Begitu pikirnya.

“Ini tidak boleh didiamkan,” tambahnya lagi.
Rasa penasarannya membuncah. Rabi’ bin Sulaiman pun diam-diam membuntuti perempuan itu hingga langkahnya terhenti setelah tiba disebuah rumah besar. Rupanya, inilah rumah yang dituju perempuan itu.

“Tok….tok….tok….” Perempuan itu mengetuk pintu.
“Siapa?,” tanya seseorang dari dalam rumah.
“Bukalah pintu! Aku adalah orang yang paling malang.”

Seseorang membuka pintu dari dalam Empat anak perempuan mendekat kearah pintu itu terbuka. Tak ada simpul keceriaan di wajah keempat anak perempuan itu. Guratan wajahnya menyiratkan lilitan beban berat dalam hidup yang mereka hadapi.

Rabi’ bin Sulaiman, mengintip dari lubang pintu. Didalam rumah itu keadaannya sangat menyedihkan. Ruangan dalam rumahnya nampak kosong, tidak ada apa-apa. Sambil menangis, perempuan itu berkata kepada anak-anaknya,” Masaklah daging ini dan bersyukurlah kepada Allah SWT, karena Dia-lah yang berkuasa terhadap hamba-hambaNya.”

Anak-anak perempuan itu memotong-motong daging itu dan hendak membakarnya. Melihat pemandangan itu, Rabi’ bin Sulaiman pun berteriak,” Wahai hamba Allah, demi Allah janganlah kalian memakan daging itu.”
“Siapa engkau?”
“Aku orang asing.”

“Wahai orang asing, apa yang engkau inginkan dari kami? Kami sendiri terbelenggu oleh takdir. Selama tiga tahun tidak ada seorang pun yang menolong kami dan membantu kami. Apa yang engkau inginkan dari kami?”

“Selain satu golongan dari agama Majusi tidak ada satu agama pun yang memperbolehkan makan bangkai.”

Perempuan itu berkata,” Kami adalah keturunan Nabi saw. Ayah dari anak-anak perempuan itu adalah orang yang mulia. Ia ingin menikahkan putri-putrinya dengan seorang sepertinya. Belum lagi ia melaksanakannya, ia telah meninggal dunia. Harta warisan yang ia tinggalkan telah habis. Kami tahu bahwa makan bangkai itu tidak diperbolehkan, akan tetapi ketika dalam keadaan darurat diperbolehkan. Sudah empat hari kami kelaparan.”

Mendengar itu Rabi’ menangis. Ia pulang. Kepada saudaranya, ia mengatakan bahwa ia tidak pergi berhaji. Saudaranya berusaha menyebutkan keutamaan-keutamaan haji. Ia menuturkan bahwa orang yang pulang dari haji akan pulang dalam keadaan bersih dari dosa-dosa dan banyak keutamaan lainnya.

“Sudahlah, tidak usah banyak bicara!” tukas Rabi’ bin Sulaiman.
Rabi’ bin Sulaiman mengambil pakaian ihramnya dan seluruh perbekalannya serta uang tunai 600 dirham. Seratus dirham ia belikan gandum, seratus dirham ia belikan pakaian. Sisanya ia masukkan ke dalam tepung gandum, lalu ia berikan semua barang-barang itu kepada si perempuan.

Menerima bantuan itu, si perempuan berujar,”Wahai Ibnu Sulaiman, pergilah! Semoga Allah swt mengampuni seluruh dosamu, yang lalu maupun yang akan datang. Dan semoga Allah swt memberimu pahala haji, semoga Allah swt memberimu suatu tempat didalam surga, dan semoga Dia memberimu ganti yang akan engkau liha.”

Putri pertamanya turut mendoakan,”Semoga Allah swt melipatgandakan pahalamu dan mengampuni dosa-dosamu.”

Berikutnya putri yang kedua mendoakan,” Semoga Allah swt. Membalasmu dengan balasan yang lebih banyak dari apa yang engkau berikan kepada kami.”

Berikutnya lagi putri ketiga mendoakan,”Semoga Allah swt membangkitkan engkau bersama kakek kami (Nabi Muhammad saw).”

Disusul Putri yang keempat, yang paling kecil, berdoa,”Ya Allah,berikanlah kepada orang yang berbuat baik kepada kami balasan dengan cepat dan ampunilah dia!”

Kafilah para calon haji telah berangkat sehingga Rabi’ bin Sulaiman terpaksa tinggal di Kufah. Bahkan hingga mereka kembali dari haji, Rabi’bin Sulaiman masih di Kufah. Ia bermaksud menyambut jamaah haji dan meminta doa dari mereka. Siapa tahu ada doa yang dikabulkan, pikirnya.

Ketika sebuah rombongan haji datang di depan Rabi’ bin Sulaiman, ia merasa sangat sedih karena tidak bisa pergi haji. Matanya berkaca-kaca.Ketika bertemu dengan mereka, ia berkata,” Semoga Allah swt menerima haji kalian dan mengganti seluruh harta yang kalian belanjakan.”

Salah seorang dari mereka berkata,”Doa macam apa ini?”

Rabi’ bin Sulaiman berkata,” Doanya orang yang dihalangi untuk datang ke pintu di rumah-Nya.”

Orang itu berkata,” Sungguh sangat mengherankan, engkau tidak mengakui bahwa engkau telah pergi bersama. Bukankah engkau bersama kami di Padang Arafah? Bukankah engkau bersama kami melempar jumrah? Bukankah engkau melakukan thawaf bersama kami?”

“Ini adalah karunia Allah,” begitu dalam hati Rabi” bin Sulaiman berkata-kata.

Dan ketika itu pula rombongan haji dari kampungnya tiba. Kepada mereka Rabi’ bin Sulaiman berkata,” Semoga Allah swt menerima usaha kalian dan menerima haji kalian.”

Mereka pun mengatakan hal sama kepadanya.” Bukankah engkau bersama kami di Padang Arafah, melempar jumrah? Kenapa sekarang engkau seolah-olah tidak mengetahuinya?”

Salah seorang dari mereka maju menghampiri Rabi’ bin Sulaiman dan berkata,”Wahai saudaraku, mengapa engkau tidak mengakuinya? Ada apa? Bukankah engkau bersama kami di Mekah atau di Madinah? Ketika kita keluar dari pintu Jibril, engkau menitipkan tas ini kepadaku, karena waktu itu orang-orang berdesakan di sekeliling kita. Di atas tas itu tertulis: Siapa yang berurusan dengan kami akan beruntung. Nah, ambillah tas berisi uang ini.”

Rabi’ bin Sulaiman belum pernah melihat tas itu sebelumnya. Tetapi Rabi’ bin Sulaiman mengambilnya dan membawanya pulang.Lalu, sesampainya di rumah, ia shalat Isya’ dan menyempurnakan amalan wiridnya. Malam itu ia memikirkan kisah yang telah terjadi. Sampai-sampai susah baginya untuk bisa tidur. Begitu matanya terpejam, ia bermimpi. Dalam tidurnya, ia mimpi bertemu Rasulullah saw menjawab salam Rabi’ bin Sulaiman sambil tersenyum.

Beliau berkata,”Wahai Rabi’, kami sudah memberikan beberapa bukti bahwa engkau tidak percaya. Dengarkanlah! Sesungguhnya ketika engkau bersedekah kepada perempuan yang masih keturunanku itu, dan engkau telah memberikan kepadanya seluruh perbekalanmu, lalu engkau tangguhkan hajimu, maka aku telah berdoa kepada Allah swt agar Dia memberimu ganti yang lebih baik. Maka Allah swt memerintahkan satu malaikat dalam bentukmu untuk mengerjakan haji setiap tahun sampai hari kiamat atas namamu. Dan di dunia ini, engkau diberi ganti 600 dinar sebagai ganti 600 dirham. Sejukkanlah matamu!”

Alkisah, ketika Rabi’ bin Sulaiman membuka matanya, ia melihat di dalam tas itu ada 600 dirham.

HIKMAH BAGI KITA

Hampir setiap tahunnya jumlah umat Islam yang berangkat menunaikan ibadah haji ketanah suci terus meningkat. Bahkan, tidak sedikit dari kita yang berkunjung ke sana lebih dari sekali dan pergi berkali-kali. Yang disebut terakhir barangkali bukan isapan jempol belaka. Masih hangat dalam ingatan kita bagaimana pemerintah sampai akhirnya mengeluarkan himbauan, bahwa prioritas utama jamaah yang boleh berangkat adalah mereka yang selama ini belum pernah ke tanah suci untuk menunaikan ibadah haji.

Fenomena ini setidaknya menggambarkan, bahwa meski di tengah kehidupan yang serba sulit seperti sekarang ini, ada diantara kita yang hidup dengan ekonomi menggembirakan. Mereka berduyun-duyun meraih kesempatan untuk pergi ke tanah suci hingga berkali-kali.

Namun, pada saat yang bersamaan, membuat kita prihatin. Sebab, fenomena ini menyiratkan potret ketimpangan sosial yang nyata antara si kaya dan si miskin. Jika ada di antara kita yang mampu untuk menunaikan ibadah haji dan pergi ketanah suci hingga berkali-kali, sementara banyak orang lainnya yang untuk sekadar makan sehari-hari saja begitu sulitnya. Pada titik inilah sejauhmana kepekaan sosial seseorang dipertaruhkan.

Kesalehan seseorang tidak bisa diukur dari sudah berhaji atau belum berhajikah ia. Kemuliaan seorang hamba bukan karena selendang status ‘haji’ yang di sandangnya. Hamba yang paling mulia di sisi-Nya adalah yang paling bertakwa diantara kita. Semoga kisah di atas menjadi ibrah kita bersama. Wallahua’alam bil shawab.(sumber : Arifin/Hidayah Des.2006)

0 Comments:

Post a Comment

Subscribe to Post Comments [Atom]

Links to this post:

Create a Link

<< Home

Cool Slideshows
WIB

INFORMASI BEASISWA

   

TEMAN TEMAN BLOGGERS

::A::     • A Decent Man   • A. Fatih Syuhud Blog   • Ahmad Qisai Blog   • Alif.Jepara    bull; ARies Blog   ::B::     • Bintang Emirates Arab   ::C::     ::D::     • Didiet Malang   ::E::     ::F::     • Ferry Zuljanna Blog   ::G::     ::H::     • Hasbi Assidiqi Blog   • Hery Martono Blog   ::I::     • Indhy Blog   • Irwansyah Yahaya Blog   ::J::     • Joni Rahalsyah Putra Blog   • Jfun Blog   ::K::     • Khairurrazi Blog   • Komering Blog   ::L::     • Lenny Gusman Blog   • Linda Blog   • Lukman Nul Hakim Blog   • LitComposer   ::M::     • Muchlis Zamzami Blog   • Music From The Heart   ::N::     ::O::     • Otomotive   ::P::     • Perguruan Istiqlal Delitua Medan   • Perguruan Pencak Silat Beksi Blog   • Purwarno Hadinata Blog (The World of Language)   ::Q::     ::R::     • Rini Ekayati Blog   • Rizqon Khamami Blog   • Rini Aisyah Blog   ::S::     • Sabudi Prasetyo Blog   • Saifullah Hayati Nur Blog   • Saiful Matondang Blog   • Syahrizal Pulungan Blog   • Suara Hati Seorang Perempuan   ::T::     • Meytia Mutiara (Tia)   • The Composed Gentleman Blog   • Tylla Subijantoro Blog   • The Thoughts   ::U::     ::V::     ::W::     ::X::     ::Y::     • Yunita Ramadhana Blog   ::Z::     • Zamhasari Jamil Blog   • Zulfitri Blog  

TIPS dan TUTORIAL MEMBUAT BLOG BAGI PEMULA

•[1]Membuat Blog   •[2]Cara Praktis Promosi Blog (1)   •[3]Cara Praktis Promosi Blog (2)   •[4]Beasiswa Google Adsense   •[5]Kiat Membuat Abstraksi di Blogspot   •[6]Arsip Pull-Down   •[7]Permasalahan Posting Abstraksi   •[8]Pasang Foto di Profile Blogspot    •[9]Memaksimalkan Kerja Blogger   •[10]Membuat Link di Posting & Window Baru   •[11]Aksesoris Blog •[12]Apa itu Feed, RSS dan XML? •[13]Technorati: Direktori blog, Tag & Bookmark Online •[14]Supaya Di-Index Google: Google Sitemaps •[15]Mengapa Juwono Sudarsono nge-Blog •[16]Cara Daftar Google AdSense •[17]Google AdSense Referral •[18]Aggregator Blog Indonesia •[19]Membuat Link di Sidebar •[20]Membuat Menu Pull-Down di Sidebar •[21]Blogger Versi Baru (BETA) •[22]Mengapa Blog Melorot •[23]Daftar Iklan Adbrite •[24]Cara Membuat Marquee •[25]Tip Menulis di Blog •[26]Cara Pasang Kode HTML/Javascript di Blogger Beta •[27]Pasang "Recent Comments" di Sidebar